NAMA : SITI FATIMAH INDAH SARI
NIM :
ACC 115 036
|
Rangkuman
Materi Tentang Gas Ideal
A.
Gas Ideal
a.
Gas
Ideal – Diskripsi Makroskopik
Misalkan sebuah massa nM dari suatu gas dibatasi di dalam sebuah wadah
yang volumenya, V ; M adalah berat molekular ( gram / mol ) dan n adalah
banyaknya mol. Massa jenis p dari gas tersebut adalah nM/V dan jelaslah bahwa
kita dapat mereduksi ρ baik dengan memindahkan sebagian gas dari wadah ( dengan
mereduksi n ) atau dengan menaruh gas tersebut didalam sebuah wadah yang lebih
besar ( dengan memperbesar V ). Kita medapatkan dari eksperimen bahwa, pada
kerapatan yang cukup rendah, maka semua gas, bagaimanapun komposisi kimia nya,
cenderung memperlihatkan sebuah hubungan sederhana yang tertentu diantara
variabel-variabel termodinamika p, V, dan T. Hal ini menyarankan konsep
mengenai suau gas ideal ( ideal gas ), yakni gas yang akan mepunyai sifat sederhana
yang sama di bawah sama kondisi. Didalam bagian ini kita meberikan sebuah
definisi makoskofik atau definisi termodinamika dari suatu gas ideal.
Dibrikan sebah massa nM dari suatu gas didalam
keadaan kesetimbangan termal maka kita dapat mengukur tekanannya p,
tempraturnya T, dan volumenya V. Untuk nilai – nilai kerapatan yang cukup
rendah maka eksperimen memperlihatkan bahwa (1) untuk sebuah massa gas yang
diberikan yang dipegang pada suatu tempratur kostan, maka tekanan adalah berbanding
terbalik dengan volume ( hukum Boyle ) dan ( 2 ) untuk sebuah massa gas yang
diberikan yang dipegangpada suatu tekanan konstan, maka volume adalah
berbanding langsung dengan tempratur (
hukum Charles dan Gay Lussac ). Persaamaan :
pV
= sebuah konstanta ( untuksebuah massa gas yang tetap ). ( a -1 )
T
Voluem yang ditempati oleh suatu gas pada suatu tekanan dan
tempratur yang diberikan adalah sebanding dengan massnya. Jadi, konstanta
didalam persamaan a- 1 haruslah juga sebanding dengan massa gas. Kita
menuliskan konstanta didalam persamaan (a-1)
sebagai nR, dengan n adalah banyaknya mol gas dan R adalah sebuah
konstanta yang harus ditentukan dengan eksperimen untuk setiap gas. Pengharapan
kita bahwa kesederhanaan akan muncul jika kita membandingkan gas – gas dengan
menggunakan basis molar memang dapt dibenarkan karena eksperimen memperlihatkan
bahwa, pada keapatan yng cukup rendah , R mempunyai nilai yang sama untuk seua
gas, yakni :
R = 8,314 j/mol K = 1,986 kal/mol K
R dinamakan konstatanta
gas universal, maka persamaan a-1 sebagai
pV = nRT (
a – 2 )
dan kta mendefinian suatu
gas ideal sebagai gas yang menuruti huunga ini dibawah semua kondisi. Tida ada
gas yang betul –betul merupakan gas ideal, tetapi gas ideal tersebut tetap
merupakan sebuuah konsep sederhana da berguna yang dihubungkan dengan keadaan
yang sebenarnya oleh kenyataan bahwa sifat semua gas riel akan mendekati
abstraksi sifat gas ideal jika kerapatan gas adalah cukup rendah. Persamaan a-2
dinamakan persamaan keadaan dari suatu gas ideal.
Jika kita dapat mengisi tabun sebuah termometer gas bervolume
konstan ( yang ideal) dengan suatu gas ideal, maka kita melihat dari persamaan
a-2 bahwa kita dapat mendefinisikan
temperatur dengan menyatakannya didalam pembacaan-pembacaan tekanan, yakni :
T
= 273, 16 K p (
gas ideal )
ptr
Di sini ptr
adalah tekanan gas pada titik tripel, pada mana temperatur Ttr
menurut definisi adalah 273,16 K. Di dalam raktek ini harus mengisi termometer
dengan suatu gas riel dan mengukur temperatur dengan mengektrapoasikan ke
kerapatan no dengan menggunakan persamaan
T
= 273, 16 K lim p ( gas iriel)
ptr →0ptr
sekiranya kita memunyai
suatu gas ideal yang tersedia ( yng memang kita tidak mempunyainya ), maka
ekploitasiterebut tidak akan perlu.
b.
Gas
Ideal – Definisi mikroskofik
Dari
segi pandangan mikroskopik maka kita mendefinisikan suatu gas ideal dengan membuat
anggapan-anggapan yang berikut ; yang akan merupakan tugas kita adalah
memakaikan hukum-hukum mekanika klasik secara statistik kepada atom-atom gas
dan memeperlihatkan bahwa definisi mikroskopik kita adalah sesuai (konsisten)
dengan definisi makroskopik dari bagian yang terdahulu.
1.
Suatu gas terdiri dari
partikel-partikel, yang dinamakan moekul-molekul. Bergantung pada gas tersebut,
maka setiap molekul akan terdiri dari sebuah atom atau sekelompok atom. Jika
gas tersebut adalah sebuah elemen atau suatu persenyawaan dan berada didalam
suatu keadaan stabil, maka kita akan meninjau semua molekulnya sebagai
molekul-moekul yang identik.
2. Molekul-molekul
bergerak secara serampangan dn menuruti hukum-hukum gerak newton. Molekul-molekul bergerak
di dalam semua arah dan dengan berbagai laju. Di dalam menghitung sifat-sifat
gerakan, maka kita menganggap bahwa mekanika Newton dapat dipakai pada tingkat mikroskopik.
Seperti semua anggapan kita, maka anggapan yang satu ini akan dapat bertahan
atau gagal bergantunng pada apakah hasil-hasil eksperimental yang diramalkan
oleh anggapan ini benar atau tidak.
3. Jumlah
seluruh molekul adalah besar. Arah
dan laju gerakan dari setiap molekul dapat berubah secara tiba-tiba karena
tumbuan dengan dinding atau dengan molekul lain. Setiap molekul khas akan
menuruti sebuah jalan yang berliku-liku karena tumbukan –tumbukan ini. Akan
tetapi, karena banyaknya molekul maka
kita menganggap bahwa jumlah besar tumbukan yang dihasilkan akan mempertahankan
distribusi kecepatan molekular secara keseluruhan dan keserempanan gerakakan.
4. Volume
molekul-molekul adalah pecahan kecil yang dapat dibaikan dari volume-volume
yang ditempatioleh gas tersebut. Walaupun jumlahnyamolekul sangat banyak, namun
molekul-molekul tersebut adalah sangat kecil sekali. Kita mengetahui bahwa
volume yang ditempati oleh suatu gas dapat diubah melalui suatu jangkauan nilai
yang besar dengan kesukaran yang kecil, dan bahwa bila suatu gas mengembun maka
volume yang ditempati oleh cairan tersebut dapat beribu-ribu kali lebih kecil
dari pada volume yang ditempati oleh gas. Maka, anggapan yang kita buat adalah
masuk akal. Kelak kita akan menyelidiki ukuran yang sebenarnya dari molekul dan
kita akan melihat apakah kita perlu mengubah anggapan ini.
5. Tidak
ada gaya-gaya yang cukup besar (appreciable forces) yang bereaksi pada
molekul-molekul kecuali selama tumbukan. Sampai taraf dimana anggapan ini
benar maka sebuah molekul akan bergerak dengan kecepatan uniform diantara
tumbukan-tumbukan. Karena kita telah
menganggap bahwa molekul-molekul adalah besar dibandingkan terhadap ukuran
sebuah molekul. Maka, kita menganggap bahwa jangkauan pengaruh gaya – gaya
molekular tersebut dapat disamakan (dapat dibandingkan) dengan ukuran
molekular.
6. Tumbukan-tubukan
adalah elastik dan tumbukan-tumbukan terjadi didalam waktu yang sangat singkat . tumbukan-tumbukan antara
molekul-molekul dan diantara molekul dengan dinding-dinding wadah akan
mempertahankan kekekalan mmentum dan juga (kita menganggap) akan mempertahankan
kekekalan tenaga kinetik. Karena waktu tumbukan (collision time) dapat
diabaikan dibandingkan terhadap waktu yang dihabiskan oleh sebuah molekul
diantara tumbukan-tumbukan , maka tenaga kinetik yang diubah menjadi tenaga
potensial selama tumbukan tersebut akan tersedia sekali lagi sebagai tenaga
kinetik setelah waktu yang begitu singkat sehingga kita dapat mengabaikan
pertukaran tenaga ini seluruhnya.
c.
Syarat Gas
Ideal
Gas ideal
merupakan gas yang memenuhi asumsi-asumsi berikut :
1. Suatu gas
terdiri atas molekul-molekul yang disebut molekul. Setiap molekul identik
(sama) sehingga tidak dapat dibedakan dengan molekul lainnya.
2. Molekul-molekul
gas ideal bergerak
secara acak ke segala arah.
3. Molekul-molekulgas ideal tersebar
merata di seluruh bagian.
4. Jarak antara
molekul gas jauh lebih besar daripada ukuran molekulnya.
5. Tidak ada
gaya interaksi antarmolekul; kecuali jika antarmolekul saling bertumbukan atau
terjadi tumbukan antara molekul dengan dinding.
6. Semua
tumbukan yang terjadi baik antarmolekul maupun antara molekul dengan dinding
merupakan tumbukan lenting sempurna dan terjadi pada waktu yang sangat singkat
(molekul dapat dipandang seperti bola keras yang licin).
7. Hukum-hukum
Newton tentang gerak berlaku pada molekul gas ideal.
d.
Hukum
- Hukum Gas Ideal
1.
Hukum
Boyle Mengenai Gas
Eksperimen kuantitatif pada gas, pertama kali
dilakukan oleh seorang saintis asal irlandia bernama Robert Boyle.
.
Dengan tabung berbentuk J yang
ditutup pada bagian ujungnya (seperti pada gambar), ia memasukkan raksa cair
(Hg), kemudian diukur tekkanan yang diterima gas di dalam tabung dan volume
dari gas. Kemudian dalam tabung J ditambahkan lagi raksa cair, sehingga tekanan
dalam gas dalam tabung meninggkat dan volume gas dalam tabung semakin kecil.
Pengukuran ini dilakukan hingga diperoleh beberapa data dari eksperimen
Boyle.
.
Dari eksperimen Boyle ini, diperoleh kesimpulan berupa adanya konstanta yang dinyatakan dalam persamaan matematis berikut:
PV = k
yang disebut hukum Boyle dimana k merupakan konstanta.
Penggunaan paling penting dari hukum Boyle ini ialah untuk memprediksi volume suatu gas ketika tekanannya berubah, ataupun sebaliknya.
2. Hukum Charles Mengenai Gas
Setelah penemuan Boyle mengenai gas, seorang saintis
asal Perancis bernama Jacques Charles melakukan eksperimen lain mengenai
gas. Charles ialah orang pertama yang mengisi ballon udara dengan hidrogen dan
yang pertama melakukan perjalanan dengan balon udara.
Charles melakukan percobaan dengan mengamati perubahan volume terhadap temperatur pada tekanan konstan. Ia menemukan bahwa pada tekanan konstan, volume gas meningkat secara linear dengan peningkatan temperatur. Seperti terlihat pada grafik pengamatan hukum charles berikut:
Charles melakukan percobaan dengan mengamati perubahan volume terhadap temperatur pada tekanan konstan. Ia menemukan bahwa pada tekanan konstan, volume gas meningkat secara linear dengan peningkatan temperatur. Seperti terlihat pada grafik pengamatan hukum charles berikut:
Yang menarik dari grafik ini ialah, fakta bahwa
ketika volume gas mendekati nilai nol, temperatur gas berada pada -273 derajat
Celcius. Fakta ini memberikan satu pengukuran standard untuk temperatur yaitu
Kelvin (K), yang mana 0 K = -273oC. Sehingga:
K=oC+273
Fakta ini memberikan kesimpulan bahwa volume gas nol dicapai ketika temperatur 0K atau pada temperatur absulute zero (nol absulut).
Jadi hukum Charles menyatakan bahwa volume gas berubah secara linier sesuai perubahan temperatur. Dalam persamaan matematis dinyatakan:
V = bT
yang mana b merupakan konstanta proporsional gas.
K=oC+273
Fakta ini memberikan kesimpulan bahwa volume gas nol dicapai ketika temperatur 0K atau pada temperatur absulute zero (nol absulut).
Jadi hukum Charles menyatakan bahwa volume gas berubah secara linier sesuai perubahan temperatur. Dalam persamaan matematis dinyatakan:
V = bT
yang mana b merupakan konstanta proporsional gas.
3. Hukum Avogadro mengenai Gas
Pada tahun 1811,
seorang kimiawan asal italia bernama Avogadro menyatakan sebuah postulat
bahwa pada volume, temperatur, dan tekanan yang sama, gas akan memiliki jumlah partikel yang sama.
Jika dinyatakan dalam persamaan matematis, hukum avogadro ialah:
Jika dinyatakan dalam persamaan matematis, hukum avogadro ialah:
V= an
dimana a=
konstanta proporsional gas dan n ialah jumlah partikel dalam gas.
Hukum Avogadro mengenai gas menyatakan bahwa pada temperatur dan tekanan konstan, volume gas akan berbanding lurus secara proporsional dengan jumlah mol dari gas tersebut.
Hukum Avogadro mengenai gas menyatakan bahwa pada temperatur dan tekanan konstan, volume gas akan berbanding lurus secara proporsional dengan jumlah mol dari gas tersebut.
4.
Hukum gas idealmerupakan kombinasi dari Hukum Boyle, Hukum
Charles dan Hukum Avogadro.
Hubungan yang
menunjukkan bagaimana volume gas bergantung pada tekanan, temperatur dan jumlah
mol gas dapat ditunjukkan oleh persamaan matematis:
Dimana R adalah
konstanta gas universal. Nilai dari R ialah 0.08206 L atm/K mol. Persamaan
diatas lebih dikenal lagi dengan bentuk:
Hukum Gas
ideal adalah persamaan keadaan untuk gas, dimana kondisi
gas pada waktu tertentu dideskripsikan oleh persamaan matematis. Hukum gas
ideal ini merupakan persamaan empiris yang telah diuji untuk beberapa gas. Gas
yang mengikuti hukum gas ideal ini disebut gas ideal. Hukum gas ideal dapat
digunakan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan terutama mengenai sifat
gas.
e. Tekanan (P):
Tekanan adalah besarnya gaya yang
berkerja tiap satuan luas. Gas adalah zat yang sifatnya peka terhadap tekanan
ataupun suhu. Bila tekanan berubah, maka volume berubah demikian juga
kerapatan. Untuk tekanan gas biasanya digunakan satuan atmosfer (atm). Untuk
mengukur tekanan digunakan barometer air raksa.
|
f.
Volume
Gas (V)
Di antara zat
padat, zat cair, maka gaslah yang paling mudah
dimanfaatkan. Artinya, volume gas sangat dipengaruhi oleh tekanan.
Karena sifat molekul gas yang mudah mengisi ruangan, maka yang dimaksud volume
(isi) adalah seluruh ruangan yang ditempati gas tersebut.
g.
MOE/MOL:
1 mol adalah banyak gram suatu unsur atau molekul yang besarnya sama dengan angka massa atom relatif (Ar) atau massa angka molekul relatif (Mr)nya.
Ar C =12; 1 mol C = 12 gram n mol unsur = n Ar gram.Mr N2O = 18; 1 N2O = 12 gram n mol senyawa n = n Mr gram.
1 mol adalah banyak gram suatu unsur atau molekul yang besarnya sama dengan angka massa atom relatif (Ar) atau massa angka molekul relatif (Mr)nya.
Ar C =12; 1 mol C = 12 gram n mol unsur = n Ar gram.Mr N2O = 18; 1 N2O = 12 gram n mol senyawa n = n Mr gram.
h. Bilangan
Avogadro (NA):
Menunjukkan banyak atom dalam 1 mol unsur atau banyaknya molekul dalam 1 mol suatu senyawa.
NA= 6,02 × 1023
1 mol C mengandung 6,02 × 1023 atom C.
1 mol N2O mengandung 6,02 × 1023 molekul N2O.
Menunjukkan banyak atom dalam 1 mol unsur atau banyaknya molekul dalam 1 mol suatu senyawa.
NA= 6,02 × 1023
1 mol C mengandung 6,02 × 1023 atom C.
1 mol N2O mengandung 6,02 × 1023 molekul N2O.
i.
Kapasitas Panas Jenis Gas
Terdiri dari:
Kapasitas panas jenis pada tekanan tetap (Cp)
Kapasitas panas jenis pada volume tetap (Cv)
Terdiri dari:
Kapasitas panas jenis pada tekanan tetap (Cp)
Kapasitas panas jenis pada volume tetap (Cv)
j.
Tekanan Standar
Tekanan yang diberikan oleh suatu kolom air raksa tinggi 76 cm padan 0^0 C (〖273〗^0 K), harganya mendekati rata-rata atmosfer di permukaan laut, disebut 1 atmosfer (atm).
a atm = 1,013 × 105 Pa
keadaan standar menunjukkan temperatur sebesar 0^0 C (〖273〗^0 K) tekanan 1 atmosfer.
Tekanan yang diberikan oleh suatu kolom air raksa tinggi 76 cm padan 0^0 C (〖273〗^0 K), harganya mendekati rata-rata atmosfer di permukaan laut, disebut 1 atmosfer (atm).
a atm = 1,013 × 105 Pa
keadaan standar menunjukkan temperatur sebesar 0^0 C (〖273〗^0 K) tekanan 1 atmosfer.
k. Konstanta
Gas Universal (R)
Hukum-hukum gas sempurna untuk tiap 1 mol
P. V = R. T
Dimana:P = Tekanan (Pa)
V= Volume (m^3)
T= Suhu ( 0K)
R= Tetapan gas (Joule K^(-1) mol-1)
Hukum-hukum gas sempurna untuk tiap 1 mol
P. V = R. T
Dimana:P = Tekanan (Pa)
V= Volume (m^3)
T= Suhu ( 0K)
R= Tetapan gas (Joule K^(-1) mol-1)
B. Gas
Ideal dalam Ilmu Fisika dihubungkan dengan ilmu kimia
Gas ideal
secara umum dalam ilmu Fisika merupakan kumpulan dari partikel-partikel suatu
zat yang jaraknya cukup jauh dibandingkan dengan ukuran partikelnya. Sedangkan
dalam ilmu kimia gas ideal adalah gas hipotetis yang perilaku
tekanan-volume-suhunya dapat dijelaskan secara lengkap melalui persamaan gas
ideal. Adapun persamaan gas ideal menerangkan hubungan antara ke-empat variabel
P,V,T, dan n. Jika ditinjau dari teori gas ideal dalam Ilmu Fisika dan Ilmu
Kimia ternyata terdapat hubungan yang saling berkaitan yaitu Ilmu Fisika
menyatakan bahwa hampir semua gas yang stabil secara kimia, bersifat ideal,
jika keadaannya jauh dari keadaan dimana gas itu dapat mengembun atau bahkan
membeku. Dan dalam Ilmu Kimia persamaan gas ideal menerangkan hubungan antara
ke-empat variabel P,V,T, dan n, dimana variabel tersebut digunakan dalam Ilmu
Fisika pada persamaan Van Der Walls dalam Hukum gas sempurna untuk n mol
gas yaitu P.V
= n.R.T.
Hubungan lainnya yaitu dalam teori Ilmu Fisika partikel-partikel gas ideal itu selalu bergerak secara acak kesegala arah dan teori kinetik molekul gas dalam Ilmu Kimia mengasumsikan bahwa molekul-molekul gas bersifat ideal, jumlah molekul sangat besar dan seluruh gerakannya adalah acak. Perilaku Fisis gas ideal diterangkan oleh persamaan gas ideal.
Hubungan lainnya yaitu dalam teori Ilmu Fisika partikel-partikel gas ideal itu selalu bergerak secara acak kesegala arah dan teori kinetik molekul gas dalam Ilmu Kimia mengasumsikan bahwa molekul-molekul gas bersifat ideal, jumlah molekul sangat besar dan seluruh gerakannya adalah acak. Perilaku Fisis gas ideal diterangkan oleh persamaan gas ideal.
C. Fenomena
Gas Ideal Dalam Kehidupan Sehari-Hari
- · Botol menjadi kempes setelah di masuki air panas
Pernahkan anda memasukkan air panas kedalam botol? Misalnya
anda pergi kekebun dengan membawa sebuah kopi dan kopi tersebut anda masukan ke
dalam sebuah botol. Tanpa anda sadari botol yang berisi air kopi hangat itu
mengalami kempes, seperti tersedot bukan? Jika anda tidak mengetahui itu tentu
saja anda akan mengabaikan begitu saja. Bila anda penasaran kenapa hal itu bisa
terjadi? Ternyata ini bisa di jelaskan di dalam teori gas ideal.
Pada saat anda memasukkan kopi hangat pada botol kemudian menutupnya segera dan pergi kekebun. Selama anda di perjalanan suhu pada kopi hangat anda sedikit-sedikit akan turun menyesuaikan dengan lingkungan di sekitarnya. Turunnya suhu pada kopi ini menyebabkan rumus gas ideal bekerja. Yaitu adalah ketika suhu turun menyebabkan tekanan di dalam botol menjadi turun. Nah hal itulah yang menyebabkan botol kopi anda menjadi kempes atau seperti tersedot.
Pada saat anda memasukkan kopi hangat pada botol kemudian menutupnya segera dan pergi kekebun. Selama anda di perjalanan suhu pada kopi hangat anda sedikit-sedikit akan turun menyesuaikan dengan lingkungan di sekitarnya. Turunnya suhu pada kopi ini menyebabkan rumus gas ideal bekerja. Yaitu adalah ketika suhu turun menyebabkan tekanan di dalam botol menjadi turun. Nah hal itulah yang menyebabkan botol kopi anda menjadi kempes atau seperti tersedot.
Contoh sederhana lagi tentang gas ideal. Pernahkah anda
memompa sepeda atau motor anda dengan pompa manual? Pernahkan anda memegang
body pompa setelah anda selesai menggunakan pompa? Jika anda pernah memegang
pompa tersebut anda akan merasakan panas. Yup benar, panas! Kenapa?
Saat anda memompa sepeda, udara dari dalam pompa di paksa masuk pada ban sepeda anda. tahukah anda bahwa pentil sepeda itu lubangnya kecil. Saat anda memaksa udara dari pompa menuju ban menyebabkan udara di dalam pompa menjadi tertekan karena harus bergantian masuk pada ban melalui lubang pentil yang sempit. Tekanan yang tinggi di dalam pompa ini menyebabkan udara yang keluar dari mulut pentil sangat cepat hingga menyebabkan ada bunyi “ngiik” saat anda memompa. Ini juga termasuk salahsatu contoh sederhana dari rumus Debit (Q = Av). Nah tekanan ini lah yang menyebabkan suhu pada body pompa menjadi naik.
Saat anda memompa sepeda, udara dari dalam pompa di paksa masuk pada ban sepeda anda. tahukah anda bahwa pentil sepeda itu lubangnya kecil. Saat anda memaksa udara dari pompa menuju ban menyebabkan udara di dalam pompa menjadi tertekan karena harus bergantian masuk pada ban melalui lubang pentil yang sempit. Tekanan yang tinggi di dalam pompa ini menyebabkan udara yang keluar dari mulut pentil sangat cepat hingga menyebabkan ada bunyi “ngiik” saat anda memompa. Ini juga termasuk salahsatu contoh sederhana dari rumus Debit (Q = Av). Nah tekanan ini lah yang menyebabkan suhu pada body pompa menjadi naik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar